Mencium Hajar Aswad saat tawaf hukumnya sunnah, bukan rukun atau wajib umroh. Bila jamaah tidak bisa mendekat, cukup menyentuhnya dengan tangan lalu mencium tangan itu, atau memberi isyarat dari kejauhan. Tawaf tetap sah walaupun jamaah sama sekali tidak menyentuh Hajar Aswad.
Banyak jamaah umroh berangkat dengan harapan besar bisa mencium batu hitam ini. Harapan itu baik, tetapi perlu dibarengi pemahaman tentang hukum, urutan cara penggantinya, dan adab di tengah kepadatan mataf.

Hajar Aswad dan Kedudukannya dalam Tawaf
Hajar Aswad adalah batu hitam yang terpasang di salah satu sudut Ka’bah. Sudut ini menjadi titik awal sekaligus titik akhir setiap putaran tawaf, sehingga jamaah selalu melewatinya tujuh kali dalam satu tawaf.
Beberapa hadis menyebut keistimewaan batu ini. NU Online Jatim mengutip riwayat dalam Sunan At-Tirmidzi dan Sunan An-Nasa’i bahwa Hajar Aswad berasal dari surga dan dahulu lebih putih daripada susu.
Dalil Mencium Hajar Aswad
Dalil yang paling dikenal adalah ucapan Umar bin Khattab dalam Shahih Al-Bukhari. Umar mencium Hajar Aswad sambil mengatakan bahwa batu itu tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat. Ia menegaskan, seandainya tidak melihat Nabi Muhammad SAW menciumnya, ia tidak akan menciumnya.
Ucapan ini menunjukkan bahwa mencium Hajar Aswad adalah bentuk mengikuti sunnah Nabi, bukan mengagungkan batu. Dalam riwayat Muslim yang dikutip NU Online, Rasulullah SAW juga pernah menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat ketika haji wada’.
Hukum Mencium dan Istilam Hajar Aswad
Istilam berarti menyentuh Hajar Aswad dengan tangan. Menurut penjelasan NU Online, mencium dan istilam sama-sama sunnah. Bagi jamaah laki-laki, istilam disunnahkan pada setiap putaran tawaf. Bagi jamaah perempuan, istilam disunnahkan ketika area Hajar Aswad sedang sepi.
Karena hukumnya sunnah, jamaah yang tidak melakukan istilam, baik sengaja maupun lupa, tawafnya tetap sah. Inilah alasan mencium Hajar Aswad tidak perlu dikejar dengan cara apa pun.
Ada catatan penting bagi orang yang sedang berihram. NU Online menjelaskan bahwa bangunan Ka’bah rutin diberi wewangian. Menyentuhnya dalam keadaan ihram berarti sengaja bersentuhan dengan parfum, padahal memakai wewangian termasuk hal yang dilarang selama ihram. Karena itu, istilam dalam keadaan ihram justru dihukumi haram dalam penjelasan tersebut.
Urutan Cara Mencium Hajar Aswad dan Penggantinya
Alhafiz Kurniawan dari LBM PBNU, dalam tulisan di NU Online yang merujuk Hasyiyah Al-Bujairimi dan I’anatut Thalibin, menyusun urutan berikut. Jamaah berpindah ke cara berikutnya bila cara sebelumnya tidak memungkinkan.
| Urutan | Cara |
|---|---|
| 1 | Mencium Hajar Aswad secara langsung |
| 2 | Menyentuh dengan tangan kanan, lalu mencium tangan |
| 3 | Menyentuh dengan tangan kiri bila tangan kanan tidak bisa |
| 4 | Menyentuh dengan kayu atau benda sejenis, lalu mencium bagian yang menyentuh |
| 5 | Berisyarat ke arah Hajar Aswad dengan tangan, lalu mencium tangan itu |
Saat mataf padat, cara terakhir, yaitu berisyarat ke arah Hajar Aswad dari tempat jamaah berada, tetap bernilai sunnah. Urutan lengkap gerakan tawaf dapat dipelajari di panduan tawaf umroh tujuh putaran.

Doa Saat Melihat, Menyentuh, atau Mencium Hajar Aswad
NU Online mencantumkan doa berikut dengan rujukan Hasyiyah I’anah ath-Thalibin karya Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi (juz 2, hlm. 337). Doa ini juga dapat dibaca ketika memulai tawaf.
بِسْمِ اللهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ، وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Latin: Bismillâhi wallâhu akbar, allâhumma îmânan bika wa tashdîqan bikitâbika wa wafâ’an bi ‘ahdika wattibâ’an li sunnati nabiyyika Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Mahabesar. Ya Allah, aku melakukan ini karena beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad SAW.”
Adab dan Keselamatan di Sekitar Hajar Aswad
Area di sekitar Hajar Aswad sering dipadati jamaah. NU Online Jatim mengingatkan agar jamaah tidak mencelakai orang lain ketika hendak mendekati Hajar Aswad. Mengejar amalan sunnah dengan cara menyakiti sesama jamaah tidak dibenarkan.
- Jamaah lansia dan yang sakit sebaiknya tidak memaksakan diri untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad, sebagaimana dianjurkan NU Online.
- Jamaah perempuan cukup melakukan istilam ketika area sepi. Bila padat, berisyarat dari kejauhan sudah sesuai tuntunan.
- Jamaah yang berihram perlu menghindari menyentuh dinding Ka’bah karena wewangiannya.
- Tetap bersama rombongan agar tidak terpisah di tengah arus tawaf.
Sikap ini sejalan dengan prinsip ibadah umroh yang mengikuti sunnah: rukun dan wajib dijaga lebih dulu, amalan sunnah diambil sesuai kemampuan. Setelah tawaf, sebagian jamaah juga ingin berdoa di dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tata caranya dibahas dalam artikel doa di Multazam.

Tanya Jawab Seputar Mencium Hajar Aswad
Apakah mencium Hajar Aswad wajib saat umroh?
Tidak. Mencium dan menyentuh Hajar Aswad hukumnya sunnah. Rukun umroh adalah niat ihram, tawaf, sa’i, dan memotong rambut, sehingga umroh tetap sah tanpa mencium Hajar Aswad.
Apakah tawaf sah bila hanya melambaikan tangan ke Hajar Aswad?
Sah. Berisyarat dengan tangan ke arah Hajar Aswad lalu mencium tangan termasuk cara pengganti yang dijelaskan para ulama. Bahkan orang yang sama sekali tidak melakukan istilam tetap sah tawafnya.
Bagaimana hukum mencium Hajar Aswad bagi perempuan?
Menurut penjelasan NU Online, istilam bagi perempuan disunnahkan ketika area Hajar Aswad sepi. Saat padat, jamaah perempuan cukup berisyarat dari kejauhan.
Bolehkah menyentuh Ka’bah saat sedang berihram?
NU Online menjelaskan bahwa Ka’bah rutin diberi wewangian, sehingga menyentuhnya saat ihram berarti sengaja bersentuhan dengan parfum. Karena itu, jamaah yang berihram dianjurkan cukup berisyarat.
Rujukan: NU Online, “Fiqih Haji Lansia, Solusi ketika Sulit Mencium dan Istilam Hajar Aswad” (7 Juni 2023); NU Online, “Hukum Tidak Mencium atau Melambaikan Tangan ke Ka’bah saat Thawaf” (5 Juni 2023); NU Online, “Doa ketika Melihat, Menyentuh, atau Mencium Hajar Aswad” (13 Agustus 2018); NU Online Jatim, “Mencium Hajar Aswad, Adakah Dalilnya” (29 Juni 2022); NU Online, “4 Perbedaan Haji dan Umrah” (5 Juli 2019); Shahih Al-Bukhari; Shahih Muslim.
Ingin Umroh dengan Bimbingan Ibadah?
Tanyakan jadwal keberangkatan dan pilihan paket umroh Elharamain kepada tim kami melalui WhatsApp.





